Perjalanan Andri Mahakam berkontribusi Membangun Kembali Lembaga Legislatif Mahasiswa UGM

photo_2018-03-28_19-05-09

 

Pada awal bulan ini Andri Mahakam mendapatkan amanah baru sebagai Pimpinan 1 Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (MPM-KM) Universitas Gadjah Mada, yang mana amanah tersebut merupakan posisi tertinggi di lembaga tersebut. Andri merupakan Mahasiswa Fakultas Hukum UGM angkatan 2014 dan juga saat ini menjadi Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta Putra. Amanah tersebut disematkan kepadanya setelah musyawarah internal MPM-KM UGM pada bulan Februari yang lalu.

Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Keluarga Mahasiswa UGM merupakan lembaga legislatif mahasiswa tingkat Universitas, yangmana dulu dikenal dengan nama Senat Mahasiswa. Dalam lembaga ini ada 35 Mahasiswa perwakilan dari 2 komponen perwakilan, masing-masing 24 mahasiswa dari perwakilan Partai Mahasiswa, dan 19 Mahasiswa perwaakilan Fakultas dan Sekolah Vokasi. Para mahasiswa perwakilan tersebut dipilih melalui mekanisme pemilihan umum mahasiswa yang melibatkan seluruh mahasiswa S1 dan sekolah vokasi  ketika agenda Pemilihan Raya UGM berlangsung pada akhir tahun 2017 yang lalu. Andri merupakan salah satu perwakilan anggota MPM yang berasal dari unsur Partai Mahasiswa UGM, yaitu Partai Bunderan. Periode kepengurusan MPM tahun 2018 ini merupakan tahun kedua Andri menjadi pengurus setelah tahun lalu juga terpilih melalui mekanisme yang berbeda. Ketika ditanya mengenai alasan mengapa Andri bersedia menjadi anggota MPM KM UGM atau senat mahasiswa, jawaban andri begitu menginspirasi.

“Senat bagi saya sebenarnya merupakan bagian perjuangan mahasiswa, karena di senat saya bisa mengawal sistem perjuangan mahasiswa.” tutur Andri.

Proses Andri untuk menjadi anggota MPM UGM ternyata tak mudah. Pada awal tahun 2016 Andri berencana menjadi bagian dari MPM KM UGM dengan mendaftar melalui “kendaraan” Partai Bunderan, yang mana juga merupakan Partai Mahasiswa Tertua di Indonesia. Ia sudah berniat untuk bergabung dengan MPM karena ia memiliki cita-cita untuk menjadi politisi. Pada akhir tahun 2016 akhirnya ia membulatkan tekad untuk ikut mencalonkan diri sebagai salah salah satu calon anggota MPM dari Partai tersebut. Namun sayangnya pada pemilihan tahun 2016 itu ia tidak terpilih. Akan tetapi, setelah kepengurusan MPM berjalan beberapa bulan, ternyata ada anggota MPM dari Partai Bunderan yang mengundurkan diri. Gayung bersambut, kemudian Andri dipilih untuk menggantikan anggota MPM Partai Bunderan yang ternyata mundur karena mendapatkan  amanah di Lembaga Dakwah Kampus di Fakultasnya. Pada kepengurusan masa itu,  Andri mengampu sebagai Kepala Divisi Bagian Isu. Kemudian pada Tahun 2017 akhir ia kembali mencalonkan diri sebagai anggota MPM dari partai Bunderan dan terpilih kembali sebagai Anggota MPM untuk tahun 2018. Ia  dan timnya juga pernah waktu kampanye menginap di “markas” mereka untuk mempersiapkan materi debat publik. Kemudian mereka sering juga rapat hampir tiap malam untuk menyiapkan skenario-skenario pembahasan AD/ART. “Sangat menguras tenaga dan pikiran sebenarnya, tapi itu menjadi pengalaman menrik tersendiri bagi saya.”, ungkap Andri.

Andri memiliki peran stratetgis di lembaga tersebut pada ranah yang lebih banyak bekerja secara teknis daripada pada tataran politisnya. Menurutnya, ia harus berkontribusi dulu, baru nanti bisa berpolitik. Kalau hanya urusan politik saja yang diutamakan, maka tidak akan ada artinya, yang mana akhirnya yang didapatkan hanya jabatan dan MPM-nya sendiri menjadi tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu menyuarakan aspirasi mahasiswa.

” Sukanya menjadi senat itu lebih pada diproses pembelajarannya sih. Jadi karena sistem Senat di UGM sangat mirip dengan sistem pemerintahan di tingkat nasional, sangat terasa pembelajaran politik di Senat. Saya juga bisa lebih belajar bagaimana tantangan dan dinamika dalam proses legislasi, setidaknya di tingkat kampus. Kemudian juga kita di senat banyak bersinggungan langsung dengan permasalahan mahasiswa, dan konflik-konflik internal mahasiswa. Saya secara pribadi merasa terupgrade secara wawasan dan dapat lebih memahami danmemberikan sumbagan pemikiran dalam perherakan mahasiswa. “, tambah Andri yang berbagi mengenai kesan bahagianya ketika berkontribusi di MPM KM UGM.

Andri juga menceritakan pengalaman menarik selama berkontribusi di MPM KM UGM.  Pengalaman menarik tersebut adalah Andri dan timnya ketika saat kampanye. Kenapa? Karena pada saat kmpanye ini katanya benar-benar terasa aroma persaingan serta intrik-intrik politiknya. Pernah suatu hari ketika kampaenye ia pada sore hari menempel poster di salah satu Mading (Majalah Dinding) Fakultas, keesokan hrinya posternya sudah hilang dan diganti dengan poster calon senat dari partai lain. Kemudian juga ada pengalaman ketika mereka melakukan kampanye dengan membagikan Vitacimin. Niat baik kami untuk membagikan Vitacimin ternyata ditanggapi buruk juga oleh teman-teman yang bersebrangan dengan mereka. Mereka menuduh kami mebeli suara mahasiswa dengan Vitacimin seharga 500 perak. “Konyol sih, tapi ya ini beneran terjadi.”, imbuhnya.

Semangat terus Andri, semoga apa yang dicita-citakan bisa terlaksana dengan baik dan bisa melaksanakan amanah dengan tuntas.

-Ham

0 comments on “Perjalanan Andri Mahakam berkontribusi Membangun Kembali Lembaga Legislatif Mahasiswa UGMAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *