Thailand1

Heroboyo : Pagelaran Wayang dan Inspirasi dari Thailand

Kebersamaan dan kekeluargaan, adalah salah satu semangat yang ditanamkan dalam diri setiap peserta Rumah Kepemimpinan. Dalam berjalannya waktu pembinaan, hal itu amat terlihat dan sering diuji. Maka setiap elemen-pun berupaya agar setiap peserta memahami dan menjadikan nilai itusebagai bagian dari perjalanan perjuangannya. karena hal itu adalah salah satu bekal membangun Indonesia, kita tidak bisa sendiri.

Para peserta Rumah Kepemimpinan Surabaya telah memulai hal itu sejak lama dengan ragam agenda yang pernah dilakukan. Kunjungan Dulur, Rihlah, Family meeting dan lain sebagainya. Kali ini, peserta mencoba hal yang berbeda. Peserta Rumah Kepemimpinan membuat tantangan bagi mereka dengan melaksanakan agenda diluar negeri. Kali ini, mereka memilih negeri gajah putih, Thailand, sebagai tujuan program mereka.

Para peserta menyebut program ini dengan istilah YLCE, Young Leader Culture Exposure : The Majestic Wayang Festival. Dengan mengambil semangat kebudayaan, khususnya wayang, para peserta ingin menyampaikan kepada dunia luar bahwa Indonesia memiliki ragam budaya yang luar biasa. Khususnya, mereka hendak mengenalkan wayang kepada masyarakat di Thailand. Agenda ini dilaksanakan pada 22 s.d 24 Februari 2018 yang lalu.

Pengenalan wayang sendiri oleh peserta Rumah Kepemimpinan Surabaya dilaksanakan di dua tempat berbeda. Pertama, mereka melaksanakan itu di kampus Thammasat University pada tanggal 23 Februari 2018. Di salah satu bagian kampus, mereka menggelar panggung sederhana, kain putih sebagai background penampilan wayang, dan tentunya satu paket wayang kulit yang dibawa dari Indonesia.

Para panitia ini membagi tugas untuk melakukan publikasi acara tersebut kepada masyarakat kampus, baik yang sedang makan di kantin, berjalan menuju kelas dan lain sebagainya sampai acara berakhir. Banyak pengunjung yang hadir dan tertarik dengan pagelaran sederhana ini. Bahkan salah satu dosen seni di kampus tersebut datang menyaksikan dan memberikan apresiasi kepada anak anak mud ayang peduli dengan seni dan kebudayaan negaranya.

Di hari berikutnya, pagelaran dilaksanakan di Silom Road, Bangkok. Di area penginapan turis, sebuah panggung sederhana dibangun. Para turis dari luar Thailand maupun warga asli Thailand diajak berdiskusi tentang wayang dan budaya Indonesia.

Selain mempromosikan wayang, peserta RK Surabaya juga berkesempatan untuk berdiskusi dengan perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Thailand. Saat itu, diskusi dilaksanakan bersama Bapak Dodo Sudradjat sebagai Koordinator Fungsi Pendidikan Sosial dan Budaya KBRI, dan Bapak Prof. Mustari, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI. Agenda diskusi dilaksanakan pada hari Jum’at, 23 Februari 2018 di ruang pertemuan KBRI.

Agenda diskusi berlangsung interaktif dan banyak pesan yang kedua pembicara sampaikan. Pak Dodo merasa bangga, karena melihat masa depan Indonesia akan cerah di tangan peserta Rumah Kepemimpinan yang nanti akan menjadi pemimpin bangsa, insyaaAllah. Beliau juga kagum, karena semenjak beliau ditugaskan di KBRI, baru pada kunjungan tersebut terdapat acara seremonial yang luar biasa. Perlu diketahui, sebagai bagian dari disiplin kegiatan, hampir dalam setiap agenda di Rumah Kepemimpinan dilaksanakan seremoni pembuka yang berisi Tilawah Al Qur’an, Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Rumah Kepemimpinan, dan Pembacaan Idealisme Kami. Pak Dodo merasa kagum dengan Idealisme kami yang menurut beliau menjadi penting bagi setiap pemimpin bangsa. Pak Dodo juga menyampaikan apresiasinya kepada Rumah Kepemimpinan yang membina peserta dengan nilai-nilai fundamental, Rendah Hati, Open Mind, Objektif, Moderat, Prestatif, dan Kontributif (ROOM-PK).

Prof. Mustari juga meyampaikan nasihat-nasihat beliau kepada para peserta. Selain cerita dan pengalaman beliau dalam mengamati kehidupan masyarakat Thailand yang disiplin, ramah, nasionalisme tinggi dan bersih.

Perjalanan panjang di Thailand -pun diwarnai dengan ragam cerita yang unik. Permasalahan tiket yang membuat sebagian peserta terpaksa membeli tiket baru, pesan penginapan yang ternyata berbeda harga dari waktu pemesanan, dan masih banyak lagi cerita unik selama perjalanan ini.

Harapan besarnya adalah, setiap peserta dapat semakin memaknai hal besar dalam kebersamaan, karena kita tak bisa memperbaiki Indonesia sendiri. Selain itu, para peserta mampu mengambil pelajaran dari Thailand yang sama sama negara berkembang dengan berbagai kelebihannya, seperti soal kebersihan kota, budaya antre, ramah, dan lain sebagainya. Rasa cinta tanah air menjadi poin yang tak bisa dilupakan, mengingat para peserta pun membawa wayang untuk dikenalksan sebagai bagian dari budaya bangsa yang telah ada sejak lama.

Semangat selalu, Heroboyo!

 

0 comments on “Heroboyo : Pagelaran Wayang dan Inspirasi dari ThailandAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *