Kinanti dan Fatimah; Kolaborasi Lintas Disiplin

Hutan, ialah salah satu identitas yang melekat pada Bangsa Indonesia. Tidak kurang 63% dari seluruh luas daratan Indonesia berstatus kawasan hutan. Pasang surut bangsa serta hancur atau lestarinya kebudayaan Indonesia akan sangat ditentukan kemampuan bangsa ini dalam mengelola hutan. “Gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo” seakan telah menjadi predikat Bangsa Indonesia. Namun pada kenyataannya pengelolaan hutan di Indonesia khususnya di Jawa belum sampai pada titik keberhasilan yang semestinya, ditandai dengan interaksi negatif masyarakat terhadap hutan serta kantong-kantong kemiskinan yang justru banyak terkumpul pada daerah masyarakat desa hutan.

Bermula dari kekhawatiran tersebut, dua peserta Rumah Kepemimpinan Regional 3 Yogyakarta Putri mencoba merancang model pengelolaan hutan yang berbasis ekowisata. Hal tersebut didasari karena pariwisata alam kini menjadi salah satu ‘leading sector’ yang menunjang perekonomian tanpa merusak alam. Mereka berpandangan bahwasannya manusia tidak akan sampai pada tahap peduli dengan alam sebelum kebutuhan pokok dapat terpenuhi.

Fatimah Ayu Warahapsari (Kehutanan UGM 2014) dan Kinanti Indah Safitri (Pembangunan dan Sosial dan Kesejahteraan UGM 2014) yang tergabung dalam satu tim mencoba mengaplikasikan konsep tersebut pada Desa Bodeh, Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah yang notabene pada daerah tersebut marak terjadi illegal logging dengan intensitas yang sangat tinggi. Tidak kurang 40 hingga ratusan pencuri kayu beraksi setiap harinya dan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang kini telah dirasakan, yaitu kekeringan. Konsep pengelolaan mengusung pola pemberdayaan dengan mempertimbangkan aspek sosial ekonomi masyarakat. Konsep tersebut kemudian mereka bungkus menjadi sebuah karya tulis ilmiah dengan judul utama ‘Bodeh Forest Heritage’ dan diikutsertakan dalam lomba karya tulis ilmiah TGC in Action bertajuk ‘Be Responsive to Optimized Forest Function’ yang diselenggarakan oleh Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Ketika tim mereka dinyatakan lolos ke tahap final, mereka sempat bimbang akan melanjutkan atau tidak, karena acara lomba bertepatan dengan karantina ajang duta yang diikuti Kinanti dan satu hari setelahnya Fatimah harus hadir pembekalan KKN. Namun alhamdulillah Allah lancarkan urusan dan pada akhirnya bisa berangkat bersama ke Bogor meski harus menyusul setelah menunaikan kewajiban lain. Presentasi berjalan dengan lancar dan alhamdulillah, atas karunia Allah SWT, mereka berhasil merebut juara 3 dalam kompetisi tersebut. Perasaan bahagia tentu hinggap di hati mereka. Mereka berharap kedepan konsep yang mereka tawarkan tersebut dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan hutan di Indonesia, Khususnya di Jawa.

Yang lebih penting dari itu, karena dipertemukan dalam kompetisi yang sama, para finalis LKTI sepakat untuk tidak membiarkan karya-karya mereka berhenti pada perlombaan saja. Kini mereka yang berminat tergabung membentuk project bersama dalam rangka pengelolaan hutan berbasis teknologi. Besar harapan mereka melalui hal tersebut dapat menjadi suatu wadah kolaborasi berbagai universitas dengan lintas disiplin ilmu dalam rangka menuju pengelolaan hutan yang lebih baik. Bagi Fatimah dan Kinanti, yang terpenting dalam sebuah kompetisi karya tulis ilmiah adalah implementasi karya secara berkelanjutan dalam kehidupan riil untuk hutan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

***

0 comments on “Kinanti dan Fatimah; Kolaborasi Lintas DisiplinAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *