Gian

Rizky Gian : Mengenalkan Budaya Minangkabau di Negeri Sakura dalam Global culture & learning based on project

Akhir November tahun lalu, kita sama sama menyimak inspirasi dari seorang peserta yang mengikuti program sosiopreneur di Malaysia. Kali ini, orang yang sama kembali mengikuti program di luar negeri, di tempat yang berbeda. Ya, Rizky Gian Pratama, mahasiswa Teknik Industri ITS 2014 ini kembali menginjakkan kaki di luar negeri. Pada 20 s.d 26 Januari 2018 kemarin ia mengikuti Global culture & learning based on project yang diselenggarakan oleh International information Institute, di Jepang.

Menurut penuturan Gian, program tersebut bertujuan untuk pengenalan budaya jepang, melihat sisi lain dari kesibukan kota jepang. Peserta diajak ke tempat-tempat desa di Tokyo prepecture. “Selain itu ada juga project teknologi dalam science industrial”, ungkap Gian.

Diantara rangkaian program yang Gian lakukan disana adalah penampilan budaya. Gian sebagai orang Minangkabau, menampilkan budaya minangkabau yang dinilai unik. Ia mendapat apresiasi dari audiense. Ia merasa sangat senang dan bangga bisa mengenalkan budaya minangkabau di negeri orang. Selain itu ia juga menuntaskan project yang diberikan meskipun belum yang terbaik.

Mantan Ketua HMTI ITS ini juga menyampaikan motivasinya sampai ke negeri Sakura itu. Hal paling menarik menurutnya adalah kehidupan Jepang, yaitu budayanya. Ia tertarik dengan kebiasaan orang-orang jepang. Satu hal lagi, bahwa ia ingin melihat pusat peradaban industri, dimana jepang sebagai kiblat industri di dunia saat ini.

Gian juga menyampaikan bahwa banyak pelajaran yang didapat, salah satunya perhargaan masyarakat jepang akan budayanya. Walaupun tergolong negeri maju dengan teknologi serba canggih masih peduli dan merasa memiliki budayanya meraka dan kabanggaan yang tinggi. “Selain itu teknologi mereka maju bukan karena mereka punya dana yang besar ataupun fasilitas serba tersedia, tapi semangat orang-orang disana yang selalu berinovasi. Tidak menghasilkan sesuatu yang baru itu adalah sebuah hal memalukan bagi orang-orang disana, sehingga selalu ada pendorong untuk berkarya dan berinovasi”, imbuhnya.

Bukan tanpa halangan atau tantangan sampai akhirnya Gian berangkat ke Jepang. Ada seleksi yang harus diikuti sebelum resmi diterima sebagai delegasi. Proses pendaftarannya ada 3 tahap, daftar online dan berkas, setelahnya upload proposal, dan terakhir upload video pertunjukkan budaya. Tak hanya sampai disitu, ia juga menyampaikan kendala setelah diterima sampai pemberangkatan. “Kendala utama yaitu proses keberangkatan diawal, persyaratan yang cukup banyak & beberapa tidak bisa diurus di kota Surabaya sehingga banyak waktu yg dihabiskan untuk menyelesaikannya”, kata Gian.

Selama di Jepang-pun juga ada tantangan bagi Gian, sama seperti yang dirasakan kebanyakan orang yaitu makanan dan suhu. “Sangat susah mencari makanan dengan cap halal dan terkadang hanya melihat dari komposisi materialnya saja. Suhu pun saat disana tergolong ekstrim, rata-rata suhu -3 derajat celcius bahkan hari senin, 21 januari mencapai -7 derajat”, ungkap Gian.

Memang, untuk sebuah capaian membutuhkan kesungguhan dalam meraihnya. Pun dalam menjalaninya. Sehingga keberhasilan tinggal menunggu hasilnya. Tentu dengan keyakinan Allah memberikan yang terbaik. Gian juga berpesan kepada teman-teman semua, “saya tidak pernah terpikir bisa berangkat ke Jepang, dan hanya semangat untuk selalu mencoba-lah yang membuat saya membuka peluang untuk kesana. Manfaatkanlah setiap peluang yang ada, sangat banyak kegiatan serupa bahkan lebih bagus dibuka secara percuma bagi kita, tinggal apakah kita mau dan apakah kita mengusahakannya secara maksimal”, pungkas Gian.

Jadi, masih ragukah kita untuk mencoba sesuatu yang berbeda dan keluar dari zona nyaman kita?

0 comments on “Rizky Gian : Mengenalkan Budaya Minangkabau di Negeri Sakura dalam Global culture & learning based on projectAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *