EMCEKAQU: Sebuah Pejalanan Cinta untuk Banten (Part 2)

Ainna Fisabila

Hari kelima

Hari yang ditunggu tiba. Kami telah merencanakan untuk melakukan pemicuan

semenjak bulan agustus 2016 lalu. Hal ini harus tertunda karena kesiapan tim emcekaqu dan tim sanitarian kecamatan yang belum matang. Pemicuan ini bertujuan meningkatkan awareness masyarakat melalui simulasi agar sadar bahwa lingkungan mereka sangat kotor dan jorok. Kami sangat excited namun juga sangat gugup karena momentum ini sangat krusial, apakah masyarakat terpicu atau tidak terpicu. Pemicuan ini dilakukan di rumah Pak Carik setelah sholat jumat. Sebelumnya sempat terjadi salah paham diantara warga. Kami bilang bahwa ada sosialisasi kesehatan, saat majlis ta’lim pagi harinya dan juga setelah sholat jumat, tetapi warga menangkap akan ada pengobatan gratis. Maka awalnya, saya sudah bahagia melihat cukup banyak masyarakat berkumpul di depan rumah kepala kampong akhirnya sedikit-sedikit bubar karena kecewa. Saya

jadi ikutan kecewa, kok malah pulang, pak, bu? Namun walaupun sepi pemicuan ini tetap harus dilakukan karena sudah ada masyarakat yang berkumpul.

Maka saya selaku ketua Tim Emcekaqu memulai acara tersebut dengan Bahasa sunda yang patah-patah. Saya memang etnis sunda 100% namun sunda banten dan sunda jawa barat cukup berbeda karena penggunaan Bahasa sunda halus dan kasar. Saya menjelaskan mengenai program ini secara singkat setelah itu memutarkan video mengenai STBM itu sendiri. Masyarakat yang jarang melihat infocus terlihat cukup antusias, namun cepat kehilangan focus karena tidak terlalu mengerti Bahasa Indonesia. Saat tim sanitarian sudah datang, dimulailah simulasi tersebut. Namun, kembali lagi kami harus kecewa karena ternyata simulasi hanya diadakan di dalam ruangan dan lebih banyak penjelasan bukan praktik. Padahal, seharusnya simulasi lebih banyak praktik yang melibatkan

masyarakat sehingga mereka merasa terpicu. Kami sudah putus asa mengenai pemicuan yang menurut kami kurang ngena itu, namun ternyata ada orang yang buka suara. Beliau mencoba menanggapi mengenai pemicuan tersebut. Saya yang hanya mengerti percakapan sekitar 50% karena total dikatakan dengan Bahasa sunda banten. Walau begitu saya mengerjap-ngerjap bahagia, ternyata beliau memberikan respon positif! Senang bukan main! Akhirnya ada yang terpicu, alhamdulillah. Semoga ini merupakan awalan yang baik. Setelah pemicuan kami melakukan tradisi masyarakat Pandeglang setelah melakukan pertemuan warga, yaitu babacakan. Babacakan merupakan makan bersama seperti ngaliwet kalo bagi orang sunda. Setelah itu kami pulang ke rumah dan melakukan evaluasi mengenai kegiatan tadi. Kami berkesimpulan sama, kami kecewa terhadap tim sanitarian! Semoga ini menjadi bahan eveluasi kami agar mengundang tim yang lebih professional agar target kami tercapai.

Hari Keenam

Seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya, hari ini kami akan mulai memproduksi

contoh rengginang dan camilan tradisional lainnya bersama ibu-ibu kader posyandu. Kami mulai memasak beras ketan semenjak jam 6 pagi. Pertama kami membuat rangginang di rumah salah satu ibu kader posyandu, lalu setelahnya kami pindah ke rumah ibu bidan. Kami membuat rangginang sebanyak 8 rasa dan juga keripik pisang 4 rasa. Produk ini tidak kami produksi massal langsung karena akan kami evaluasi rasa, teknik pembuatan serta kemasannya. Ada sekitar 6 orang ibu-ibu yang terlibat dalam keiatan hari ini. Mereka sangat senang ketika tahu bahwa hasil karya mereka akan dipasarkan di Jakarta. Padahal kami yang ketar-ketir, ini beneran ada yang mau beli gak ya? Bismillah aja, niat baik insya allah dimudahkan.

Kami memberikan pengarahan kepada ibu-ibu mengenai ukuran produk, takaran bumbu dan lain sebagainya. Mereka terlihat antusias, cukup terkaget-kaget dengan ide kami dengan membuat keripik pisang diberikan bumbu bermacam-macam. Pisangnya berasal dari salah satu ibu-ibu sebanyak 3 sisir. Jadinya cukup banyak juga.

Saat bekerja bersama ibu-ibu saya merasakan betul mengenai pengalaman saling belajar. Bagaimana kami baru tahu tentang membuat keripik pisang, ibu-ibu juga baru tahu bahwa keripik pisang bisa ditambahkan berbagi macam rasa untuk membuat lebih enak atau bahkan menjadi nilai tambah untuk dijual. Selain memberikan resep, kami juga memberikan contoh package yang akan dipakai untuk produk trsebut. Walau masih ada beberapa revisi, namun membawa dummy-nya saja sudah membuat mereka yakin kepada kami.

Andini : Membawa Pulang ‘Hadiah Kecil’ dari Negeri Dua Benua

Pada tanggal 22-25 September 2017, Andini Ika Saskia, mahasiwa Fakultas Farmasi Universitas Indonesia yang juga merupakan peserta Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta mendapatkan kesempatan untuk dapat menjadi salah satu delegasi dalam Youth Education and Entrepreneur Summit (YESS) 2017 yang diselenggarakan di Istanbul, Turki. Konferensi yang melibatkan  mahasiswa dari berbagai universitas di dunia ini mengusung tema yakni “Empowering Self and Community Potential into World Collaboration of Education and Entrepreneurship”.

Dalam konferensi ini juga diundang nama-nama besar seperti Yavuz Fettahoğlu, Presiden dari GENC MUSIAD, yang merupakan asosiasi pebisnis terbesar dan terkemuka di Turki sebagai keynote speech pembuka. Nama-nama lain yang juga merupakan wajah pemuda berprestasi, seperti penerima fellowship YSEALI dan founder beberapa NGO juga tidak luput dari deretan pembicara yang menambah semangat kontribusi para pesertanya.

Konferensi yang berlangsung selama empat hari ini juga membentuk para delegasi menjadi kelompok-kelompok yang tergabung kedalam Focus Group Discussion. Melalui FGD ini diharapkan dapat menambah kekompakan antar delegasi dan menjadi ajang untuk melatih <em>leadership skill</em> serta kemampuan memecahkan masalah. Karena melalui FGD ini setiap kelompok harus mendiskusikan inovasi bersama terkait tema yang diusung untuk kemudian di presentasikan.

Andini, yang tergabung dalam cluster NGO dan memiliki ketertarikan dalam dunia pemberdayaan masyarakat berharap, melalui acara ini, dirinya mendapatkan banyak insight baru dari pembicara maupun peserta yang memang sudah terjun langsung di dunia NGO. Sehingga semangat inilah yang pada akhirnya membuat Andini bertekad untuk benar-benar bisa memaksimalkan setiap rangkaian kegiatan yang dilaluinya. Hingga kesungguh-sugguhannya ini mengantarkan dirinya menjadi salah satu kontributor ide dan dipercaya sebagai perwakilan presentan dalam presentasi FGD.

Hingga pada suatu petang, di tanggal 25 September, acara ditutup diatas sebuah kapal pesiar. Diatas kapal yang masih melaju membelah selat yang menyimpan sejuta kisah perjuangan penaklukan Konstatinopel, Selat Bosphorus, terdapat do’a yang di panjatkan Andini dalam sujud terakhirnya kala itu. Do’a yang sama ketika dirinya memeluk kedua orangtuanya saat berpisah di bandara pada malam keberangkatan. Do’a sederhana untuk  Allah izinkan agar dirinya dapat memberikan ‘hadiah kecil’ untuk orangtuanya saat pulang nanti ternyata dikabulkan melalui cara yang tak disangka. Do’a yang mengantarkan dirinya mendapatkan predikat Best Participant dalam acara ini.

Antara bersyukur dan tidak percaya menjadi perasaan yang campur adukmemenuhi rongga dadanya. Andini yakin, segala pencapaian ini adalah kolaborasi antara do’a dan ikhtiar terbaik yang bertemu dengan momentum dari Allah yang Maha Baik. Maka sejak saat itu pula Andini belajar banyak hal tentang kekuatan do’a dan kesungguh-sungguhan. Untukmu sang pemimpi, maka teruslah bermimpi dan sertakan Allah dalam setiap mimpimu!

Inspirasi dari Yunaz Karaman, Penulis Buku Anak Pemilik Perpustakaan Keliling “Prasojo”

“Satu peluru dapat menembus satu kepala, satu tulisan dapat menembus jutaan kepala”, kata orang bijak. Nampaknya kata-kata itu menjadi penyemangat bagi Yunaz, salah satu peserta Rumah Kepemimpinan Surabaya yang saat ini tengah menjalani studi di Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga.

Yunaz Ali Akbar Karaman, yang akrab disapa Yunaz, adalah seorang aktivis yang tak dapat dipisahkan dari aktivitas menulis. Ia yang masih mengemban amanah sebagai Ketua Mahagana (Mahasiswa Tanggap Bencana) Unair, juga baru saja menerima amanah baru sebagai Ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) FIB Unair 2018. Tak hanya itu, ia juga aktif dakam komunitas Subcyclist Surabaya (komunitas sepeda). “buat olahraga sekaligus “nganu” Perpustakaan Prasojoku, mas”, ungkap Yunaz. FYI (for your information) gaes, Yunaz adalah pecinta sepeda ontel, yang kini memanfaatkan sepeda sebagai sarana menngerakkan literasi, melalui perpustakaan sepeda yang ia namai “Prasojo”. Hobinya menulis, ditunjang dengan semangat menyebarkan semangat membaca.

Soal hobinya menulis, Yunaz menyampaikan bahwa kebiasaan itu ia mulai ketika kelas XII (SMA). Berdasarkan penuturannya, saat itu ia menjadi Tim penulis buku untuk komunitas pecinta alam sma, lalu lanjut ketika masuk kuliah. Bahkan ia merasa ketagihan untuk terus menulis. Ia pun merasa tak pernah kehilangan ide untuk menulis. Setiap kali membaca, ia merasa mendapatkan inspirasi-inspirasi baru untuk menulis.

“Kalau motivasi aku sering baca buku yg isinya cerita kehidupan orang, nah disana aku liat value bahwa setiap orang bisa menuliskan Kisah hidupnya untuk dibaca orang lain, sejak saat itu aku mulai nulis dan aku coba share ke khayalak buat gimana respon pembaca. Selain itu Menulis ini juga pekerjaan untuk keabadian. Banyak tokoh besar yang kini dikenang karena ide yang ia tuliskan dalam bukunya”, ungkapnya.

Ia pun menyampaikan bahwa diantara motiasi besarnya adalah Keluarga. Ia menyampaikan bahwa ketika ia dapat menerbitkan buku atau tulisan yang dimuat, yang pertama ia kabari adalah Keluarga, terutama Ibu dan Kakak. “Melihat mereka semua senang, bahagia karena tulisan atau karya saya itu sebuah kebanggaan tersendiri buat aku yang nggk bisa aku beli dimanapun dan tidak ternilai harganya”, jelasnya.</p>Sampai saat ini, ada 5 buku yang telah Yunaz tuliskan, yang mana 1 diantaranya adalah karyanya sendiri. Berikut adalah daftar buku yang ditulis oleh Yunaz:

  • Cerita Rakyat dan Budaya Tradisi Nusantara (Bebuku Publisher: 2017)/ mandiri
  • Berbagi Cahaya (Ellunar: 2017)/ kolektif
  • Disastra (Bebuku Publisher: 2017)/ kolektif
  • Janji Seekor Tikus dan Semut (FAM PUBLISHING: 2017) / kolektif
  • Narasi Kepemimpinan Pemuda (Saga: 2017) / kolektif

Satu buku masih dalam proses, yang ia kerjakan bersama anggota mahagana Unair yaitu kumpulan dongeng dengan edukasi bencana.

Fokus tulisan Yunaz saat ini masih kepada anak-anak. Ia masih sering Menulis cerita anak (dongeng, fabel) dan juga buat ilustrasi dri cerita itu. Jika kita berfikir menulis cerita anak itu mudah, mungkin kita perlu mencoba dahulu. Menurut Yunaz, menulis cerita anak itu tidak semudah bayangan kita. “Meskipun kelihatan gampang tinggal ngarang dll, tapi dibutuhkan imajinasi yang tinggi dan juga harus bisa membahasakan apa yg ingin Kita sampaikan dgn bahasa yang mudah diterima anak”, kata Yunaz. Yunaz juga mengerjakan proyek buku bersama salah satu dosen di universitas Airlangga dengan tema cerita anak.

Ini pengingat untuk kita, yang bisa jadi penghambat kita berkarya. Menurut Yunaz, musuh terbesar dalam Menulis adalah diri sendiri dan gawai (gadget). “Malas itu yg utama. Lawannya adalah dirikita sendiri, jadi harus pinter-pinter mengelola kondisi hati dan pikiran”, tambahnya.

Kedepan, Yunaz akan tetap menulis, insyaaAllah. Buku anak tetap menjadi pilihannya (dongeng, fabel, legenda dll). Iapun berharap karyanya dapat tersebar, dan dibaca anak-anak di pelosok Negeri. Selain mengenalkan Budaya bangsa, ia juga ingin mengajak anak-anak Indonesia gemar membaca. Dengan perpustakaan kelilingnya, ia mau keliling yg lebih jauh entah kemanapun. Yang jelas, ia ingin mengajak Masyarakat untuk Membaca dimanapun mereka berada. “Sama ngajak Ibu dan Kakak berlibur jauh mas hehe”, imbuhnya.

“Lebih baik kehilanggan masa muda, dari pada masa depan”, Kata Yunaz Ali Akbar Karaman, memberikan pesan bagi para pemuda.

Tak lupa, ia menitipkan pesan kepada kita, para pemuda, untuk terus berkarya, apapun karya itu dan siapapun kita. “Jika niat telah tulus untuk berbuat kebaikan, pasti lelah kita adalah Lillah. Tapi ingat siapa kita, tak ada yg Kita miliki di dunia ini. Tak pantas Kita sombong dan berlagak punya segala. Urip Kang Prasojo lan migunani liyan, hidup sederhana dan bermanfaat bagi orang lain”, pungkasnya.

Visi yang tak biasa saya dapati darinya, semoga setiap harapnya menjadi kenyataan yang dapat menjadi amal baginya. Kita doakan agar tercapai dan terus melahirkan karya-karya besar. Serta amanah barunya dapat berjalan dengan semestinya, dengan perubahan positif yang ia torehkan. (AB)

Peserta Rumah Kepemimpinan Bandung Raih Prestasi di Jepang

&nbsp;

“Dua peserta Rumah Kepemimpinan Bandung: Jhoice Noor Syahid dan M. Hanif Arrazi berhasil menjadi penyaji terbaik di ajang Indonesia Student Association Scientific Conference (ISACS) 2017 yang digelar oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Osaka-Nara Jepang di Ichiko Kaikan Hall, Osaka University, Jepang” Dua peserta Rumah Kepemimpinan Bandung: Jhoice Noor Syahid dan M. Hanif Arrazi berhasil menjadi penyaji terbaik di ajang Indonesia Student Association Scientific Conference (ISACS) 2017 yang digelar oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Osaka-Nara Jepang di Ichiko Kaikan Hall, Osaka University, Jepang[/caption]

Oktober 2017 lalu, menjadi bulan Inspiratif bagi keluarga besar Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung pun hingga di penghujung Tahun ini.

Perwakilan Prabu Bandung (sebutan untuk peserta RK Bandung) menorehkan prestasi di tingkat  internasional. Mereka adalah Jhoice Noor Syahid (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) dan M. Hanif Arrazi (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) berhasil menjadi penyaji (presenter) terbaik di ajang Indonesia Student Association Scientific Conference (ISACS) 2017 yang digelar oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Osaka-Nara Jepang di Ichiko Kaikan Hall, Osaka University, Jepang, Sabtu, 21Oktber 2017 lalu.

Jhoice dan Hanif tergabung dalam Tim Dana Desa dengan judul makalah “Integrated Financial Accounting and Reporting Platform on the Village Bureucracy Level throughout Indonesia in Order to Improve Internal Control, Accountablity, and Corruption Practice Prevention on Grand Funds : Case Study of Dana Desa One Billion Rupiah for Every Village-President Joko Widodo Cabinet Program”. Presentasi dilakukan pada bidang Goverment, Economic and Social Policy.

“Kami sangat bangga bisa memaparkan gagasan kami dalam konferensi internasional seperti ini, apalagi dihadapan ilmuwan-ilmuwan luar biasa, dan khususnya ini kami sampaikan untuk Indonesia pastinya,” ujar Hanif Arrazi, Mahasiswa Ilmu Politik Unpad angkatan 2014.

Kegiatan ini diikuti oleh 42 tim dari sejumlah perguruan tinggi di Jepang, Indonesia, dan Australia. Rumah Kepemimpinan Bandung sendiri mengirimkan empat perwakilannya dalam tim yang berbeda, mereka diantaranya Tim Jhoice Noor Syahid (Akuntansi Unpad 2015) dan Hanif Arrazi (Ilmu Politik Unpad 2014) dan Tim Novialdi Ashari (Statistika Unpad 2015) dan Azzam M. Hafidz (Ekonomi Unpad 2014)

Ajang ISACS 2017 dibuka oleh perwakilan dari KBRI Jepang dan KJRI Osaka, serta perwakilan dari Osaka University. Acara kemudian dilanjutkan dengan seminar internasional dengan pembicara kunci Prof. Akhisa Matsuno dari Osaka University. Acara juga diisi dengan presentasi makalah di hadapan para akademisi dari sejumlah universitas ternama di Jepang.

Rilis/art/HumasUnpad

Maulana Fikri: Berlaga di The Model Asia-Europe Meeting (ASEM) Spin-off Singapore 2017

Maulana Fikri, Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 2 Bandung angkatan VIII, mahasiswa Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), terpilih menjadi Delegasi Indonesia di ajang The Model Asia-Europe Meeting (ASEM) Spin-off Singapore 2017. Acara ini bertempat di National University of Singapore (NUS) dan berlangsung pada tanggal  8 – 10 Desember 2017 serta diselenggarakan oleh Asia Europe Foundation.

Mafik, panggilan akrab Maulana Fikri yang asli Sukabumi ini terpilih bersama delegasi 50 negara lainnya yang tergabung dalam jaringan negara Asia-Europe Meeting (ASEM). Mafik berhasil terpilih karena tulisan Essainya tentang Asia-Eropa, Industri, Ekonomi, dan sejenisnya.

Selama tiga hari, seluruh delegasi peserta menyelenggarakan simulasi dari perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi negara-negara ASEM dengan tujuan meningkatkan keterampilan diplomasi, konsensus, negosiasi, dan persuasi para pemimpin pemuda kita dari berbagai delegasi negara peserta.

Acara ini dimulai dengan Welcoming seassion pada hari pertama, kemudain Opening oleh Mr. Oscar BOIJE, Project Executive, Education Departement Asia-Europe Foundation (ASEF), Plenary Seassion, Bilateral Meetings, Working Group, Cultural Evening, hingga sesi akhir acara yaitu Handover of Chair’s Statement oleh Mr. SUN Xiangyang, Deputy Executive Director Asia-Europe Foundation (ASEF) kemudian sesi puncak Awards Presentation.

Aiman Bahalwan : Penulis Muda di Ragam Media

Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World 2016 “minat baca” href=”http://www.tribunnews.com/tag/minat-baca”>minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara (tribunnews.com). Menunjukkan bagaimana rendahnya minat baca warga negara Indonesia. Nampaknya itu juga menjadi kekhawatiran Aiman Bahalwan, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga ini. Sehingga ia juga terus membiasakan diri untuk membaca. Hasil bacaanya kemudian ia sarikan untuk menjadi gagasan yang kemudian ia tulis dalam bentuk opini. Hingga saat ini tulisan Aiman sudah dimuat di Koran Duta Masyarakat, Koran Harian Surya, Majalah Al Akbar, dan Majalah Al Falah. Tak hanya media cetak, opini dan reportasenya juga dimuat di media online seperti Portal Online Berita Jatim (beritajatim.com), OA Line Mahasiswa Jatim, dan Tribun Jatim (Tribunnews.com).

Soal menulis, Aiman menuturkan bahwa ia memiliki hobi itu sejak SMA, khususnya menulis karya ilmiah. Ia melihat cepatnya perubahan fenomena di sekitar kita memunculkan gagasan baru di otak sebagai respon dari fenomena tersebut. “Agar gagasan tersebut tidak beku dan mati dalam pikiran saya, maka perlu saya sampaikan. Dan melalui menulis-lah saya percaya pesan tersebut akan jauh lebih efektif tersampaikan”, imbuhnya.

Aiman memang memiliki motivasi yang besar dalam menulis. Ia merasa bahwa dengan menulis di media ia dapat menyampaikan pesan dan pikirannya kepada banyak orang, lintas tempat dan waktu. Baginya, menulis di media juga merupakan suatu kepuasan tersendiri, baik dimuat atau tidak, yang terpenting menurutnya sudah memberanikan diri dan berupaya untuk menyampaikan gagasan kita kepada orang banyak. “Jika dimuat, itu adalah nikmat tambahan yang harus disyukuri”, tuturnya. Karena memang menulis di media itu tidak semudah bayangan kebanyakan orang. Tidak semua tulisan yang dikirim ke media kemudianlangsung dimuat. Tulisan Aiman sendiri baru dimuat di media pada tulisan ke-3-nya, di media beritajatim.com. Bisa jadi orang lain mencoba lebih banyak sebelum akhirnya dimuat di media untuk pertama kalinya. Jika tanpa motivasi yang besar, tentu akan mudah menyerah dan berhenti menulis sebelum dimuat.

Aiman mengaku bahwa dirinya terinspirasi dari dosen ilmu politik, Prof. Kacung Marijan yang menceritakan pengalaman beliau sewaktu kuliah hingga saat ini. Berdasarkan pemaparan Aiman, prof. Kacung sudah membiasakan membaca minimal 2 koran setiap harinya meski tak punya uang untuk membeli koran tersebut. Selain itu beliau juga miris dengan kondisi mahasiswa saat ini yang minim membaca, termasuk membaca koran. “Meski saat ini telah ada media online, tapi koran tetap dibutuhkan dan lebih kredible”, tambah Aiman mengingat pesan Prof. Kacung.

“Oleh karena itu saya mulai membiasakan diri untuk membaca koran”, tulis Aiman melalui pesan WhatsApp di sela-sela aktivitas KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Bojonegoro.

Berawal dari membaca koran itulah Aiman mempunyai keinginan untuk ikut berpartisipasi dalam rubrik-rubrik umum yang ada di koran, salah satunya opini dan reportase. Dari situlah ia mulai mencoba menulis opini dan reportase yang kemudian ia kirim ke email redaksi koran yang biasa ia baca. Kini, hasilnya sudah ia rasakan, seperti pada deretan nama media yang pernah memuat tulisan Aiman (tersebut diawal tulisan ini). Ia malah ketagihan untuk terus menuliskan gagasan-gagasannya di media.

“Menulislah dengan tujuan untuk mengamalkan ilmu yang kita punya. Jika dari awal diniatkan untuk ibadah, insyaAllah semangat itu akan terus terjaga, meski tak setiap waktu kita menulis. Dan rasakan kepuasan tersendiri ketika tulisanmu dimuat!”, tegas Aiman, memberikan pesan kepada kita untuk berani urun rembug dan pandangan dalam bentuk tulisan.

Kita pun berharap agar kita dapat terus belajar dan menambah wawasan untuk kemudian mampu menyampaikan ilmu dan gagasan kita salah satunya melalui tulisan. Karena tulisan adalah karya yang abadi, wujud keseriusan dalam menuangkan gagasan. (AB)

Ainna Fisabila: Young Water Fellowship di Belgia

Ainna Fisabila merupakan peserta pembinaan Regional 1 Jakarta. Semenjak ia menjadi peserta pembinaan, Ia telah menjalani project Emcekaqu. Semenjak menjalani project Emcekaqu ini juga, ia memfokuskan diri dalam bidang air dan sanitasi. Bidang yang sangat baru bagi ia yang memiliki latar belakang keilmuan Keperawatan. Namun, karena sudah terlanjur ‘kecemplung’ disini, mau tidak mau, ia banyak belajar secara otodidak dari internet maupun bertemu dengan orang-orang yang memang sudah terlebih dahulu terjun ke dalam bidang ini sebelumnya. Beruntungnya, isu air dan sanitasi ini masuk ke dalam SDGs (sustanaible development goals), sehingga tidak terlalu sulit dalam mengakses informasi mengenai hal ini. Namun, tetap ada tantangan lain, yaitu sedikitnya anak muda yang terjun dalam bidang ini secara spesifik.

Perjalanan ia ke Belgia di akhir tahun lalu merupakan perjalanan yang tidak terbayangkan, karena sebenarnya ia tidak pernah terpikir untuk kesana sebelumnya. Namun, ia yang benar-benar sedang ‘haus’ sekali dengan ilmu sanitasi dan air, sangat tertarik dengan fellowship yang ditawarkan oleh satau organisasi yang berbasis di Belgia. Young Water Solutions, nama organisasi tersebut. ia begitu tertarik karena belum pernah sebelumnya ia menemukan hal semacam ini, apalagi di Indonesia, air bukanlah hal yang cukup ‘seksi’ untuk dibahas, maka ia benar-benar bersemangat untuk apply dalam program young water fellowship.

Setelah menunggu hampir sebulan, ia dikagetkan oleh Email yang menyatakan bahwa ia lolos! Ternyata, Ia menjadi salah satu dari 10 orang terpilih yang berasal dari negara yang berbeda-beda. Iai terpilih dari 800 lebih applicants berasal dari 95 negara berbeda dan menjadi satu-satunya delegasi dari negara Asia Tenggara karena negara lainnya berasal dari India, Pakistan, Uganda, Rwanda, Kenya, Guatemala, Colombo, Peru dan El Savador. ia merasa ini merupakan suatu kebaikan Allah yang sangat besar karena ia merasa bahwa Emcekaqu belum benar-benar memiliki impact yang begitu besar.

Selama disana hari-hari ia benar-benar dipenuhi dengan workshop mengenai sanitasi dan air. Mulai dari air secara general, pengelolaan air, social enterpreneurship dalam bidang air dan sanitasi, peran wanita dalam isu air dan sanitasi sampai dengan visit ke pengelolaan air limbah di salah satu kota bernama Antwerp di Belgia. Workshop disana begitu dinamis dengan berbagai aktifitas dalam ruangan yang membuat kami tidak pernah bosan mengikutinya dari pukul 9 pagi sampai 6 sore, selama 7 hari penuh.

Tidak hanya workshop, namun juga kami diminta untuk mempresentasikan project kami di depan beberapa duta besar negara yang menjadi undangan beserta petinggi dari organisasi yang berkaitan dengan air dan sanitasi di seluruh Uni-Eropa. Tidak hanya belajar mengenai air dan sanitasi. ia juga belajar mengenai kebudayaan dari negara yang berbeda. Belajar dari Belgia yang walaupun negara kecil, namun bisa menjadi pusat bagi salah satu organisasi besar seperti Uni-Eropa. Bagi ia, setiap perjalanan selalu lah menyenangkan, karena kita akan mendapatkan pelajaran dan makna.

Bagi ia, perjalanan kali ini ke Eropa bukanlah sebuah ‘pencapaian’ tapi merupakan sebuah ‘pelajaran’ yang sangat berharga karena ini merupakan pertama kali ia ke Eropa dan juga ilmu yang ia bawa dari Eropa harus dapat ia ejawantahkan agar dapat bermanfaat bagi beneficiaries di tempat project Emcekaqu berlangsung, yaitu di Pandeglang. Semoga kelak, ia lebih banyak dapat belajar di berbagai tempat, sambil mengenalkan Project Emcekaqu. Tidak hanay belajar ke luar negeri, namun juga di Indonesia itu sendiri karena masih banyak sekali yang tidak sadar akan masalah ini, apalagi masalah buang air besar sembarangan. Pdahal, secara statistik Indonesia merupakan pelaku buang air besar kedua terbesar di dunia setelah India.

Kusuma Herawati: Juara 1 National Nursing Festival

Tak afdhal rasanya saat menjadi peserta rumah kepemimpinan tetapi tidak mengikuti ajang lomba nasional maupun internasional. Hidup seatap dengan orang-orang produktif dan dibina agar menjadi SDM strategis seolah menjadi alasan kuat yang tak terpatahkan untuk semua peserta berlomba dalam kebaikan, berdakwah melalui prestasi-prestasi yang ditorehkan.

Pada bulan Oktober lalu, salah satu peserta rumah kepemimpinan regional jakarta mengikuti ajang lomba keperawatan tingkat nasional di jakarta. Kusuma Herawati mewakili Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia dalam acara National Nursing Fesival 2017. Berbagai ajang lomba menarik berbagai mahasiswa rumpun kesehatan dari seluruh wilayah indonesia.

Kompetisi terdiri dari tiga tahap, pertama babak penyisihan melalui tes tulis tentang dunia keperawatan (semacam olimpiade) untuk menjadi 6 peserta lolos ke tahap semifinal. Lalu tahap dua berupa pemaparan inovasi dalam bidang keperawatan dan tahap tiga yang terdiri dari 3 peserta untuk digali lebih dalam mengenai inovasi yang ditawarkan. Saat tembus ke tahap final, Hera yang mewakili FIK UI menghadapi kontingen dari Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada. Dan alhamdulillah, atas ikhtiar, do’a dan tawakkal, Allah SWT memberikan kesempatan menjadi Juara Pertama National Nursing Festival.

Melalui acara tersebut saya berharap menjadi wadah pengembangan diri mahasiswa keperawatan seluruh Indonesia untuk meningkatkan kualitas keperawatan melalui inovasi-inovasi yang ditawarkan. Selain itu juga menjadi wadah bagi kita untuk berjejaring dengan baik dengan sesama mahasiswa maupun tokoh-tokoh keperawatan di Indonesia. Hal tersebut menjadi nilai tambah untuk didapatkan sebagaimana yang Rumah Kepemimpinan ajarkan akan pentingnya berjejaring.

Mengikuti acara tersebut bukan hanya berbicara tentang prestasi. Rendah hati, objektif, open mind, moderat, prestatif dan kontributif yang biasa kami kenal dalam singkatan ROOM-PK, adalah enam nilai dasar yang ditanamkan pada kami sebagai peserta Rumah Kepemimpinan. Dimana setiap kegiatan di luar yang diikuti adalah sebagai simulasi kecil untuk menerapkan nilai-nilai tersebut.

Menjadi peserta Rumah Kepemimpinan yang selalu dikelilingi oleh nilai-nilai positif dari peserta lainnya bukan hanya tentang menjadi juara, tetapi kesungguhan dalam mewujudkan mimpi-mimpi kami, berani mencoba, dan menyerahkan hasil terbaik setelah berusaha optimal padaa Sang Maha Menentukan.